Foto : Dirut PDAM Purwakarta Dadan Saputra.

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Pasca-kemarau panjang yang terjadi selama enam bulan pada 2019 lalu, beberapa debit sumber air yang dikelola atau dipelihara oleh PDAM Gapura Tirta Rahayu Kabupaten Purwakarta mengalami penurunan drastis.

Dengan surutnya semua sumber air tersebut, membuat pelayanan air yang ada menjadi terganggu, terutama pelanggan PDAM pada lokasi terjauh dari lokasi penampungan (reservoir) air bersih juga pada elevasi tinggi.

Direktur Utama PDAM Gapura Tirta Rahayu Kabupaten Purwakarta Ir Dadang Saputra menyebutkan, dengan kondisi tersebut, pihaknya terus memaksimalkan pelayanan air kepada masyarakat Purwakarta. Di antaranya dengan melakukan rekayasa pendistibusian air dan pengaturan valve.

"Khusus pengaturan valve dilakukan pada lokasi valve yang secara teknis bisa diatur, karena tidak semua valve bisa di setting. Yakni dengan buka tutup valve secara bergantian dengan waktu dan zona tertentu guna memenuhi kebutuhan air bersih ke konsumen," ujar Dadang kepada awak media saat ditemui di kantornya, Jumat (17/1/2020).

Dijelaskannya, dengan dimulainya musim penghujan pada Desember 2019 ini tidak secara langsung ketersediaan sumber air baku dalam waktu singkat menjadi normal kembali.

Melainkan diperlukan beberapa bulan agar air hujan tersebut dapat menyerap ke dalam tanah di sekitar catchment area sampai dengan air keluar dari lubang mata air tersebut.

"Begitupun agar level air di Waduk Jatilhur kembali normal tidak bisa mengandalkan hujan besar di Purwakarta, karena Waduk Jatiluhur sumber air utamanya dari aliran Sungai Citarum yang hulunya ada di Kabupaten Bandung," katanya.

Sehingga, sambung Dadang, tidak langsung menambah debit Waduk Jatiluhur tapi tertahan dulu, ditampung di dua waduk, yaitu Waduk Saguling dan Waduk Cirata.

Dijelaskannya, ketinggian atau level air Waduk Jatiluhur dalam keadaan normal ada pada ketinggian muka air normal maksimum adalah 107 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan level minimum atau kritis ada di 87 mdpl.

Sedangkan level terendah yang terjadi pada musim kemarau pada 2019 ini mencapai 85,3 mdpl, jadi penurunan permukaan air danau sebesar 21,7 meter.

Dengan seringnya hujan di Kota dan Kabupaten Bandung, termasuk sepanjang aliran Sungai Citarum, meskipun tidak langsung besar, secara bertahap permukaan air Waduk Jatiluhur sampai dengan Jumat (17/1) sudah naik di level 91,9 mdpl.

Artinya, permukaan air Waduk Jatiluhur baru 6,6 meter saja padahal turunnya 21,7 meter. Begitu juga dengan sumber mata air Cigoong pada kondisi normal debit maksimum 60 liter/detik tetapi musim kemarau tahun ini hanya 18 liter/ detik, sampai dengan hari jumat tanggal 17 Januari 2020 baru naik jadi 47,6 liter/detik.

Begitu pun mata air Cilembang Sari yang pada keadaan debit normal adalah 120 liter/detik dan pada musim kemarau tahun ini debit terendah adalah 80 liter/detik. Ada pun debit sampai dengan Jumat (17/1) baru naik menjadi 104,8 liter/detik.

"Informasi dan penjelasan itu semua menjadi penyebab dan sekaligus menjawab kenapa pelayanan air bersih dari PDAM belum normal, padahal sudah sering hujan," ujar Dadang.

Dengan mulai bertambahnya debit air tersebut, kata Dadang, PDAM awalnya berencana tidak lagi melakukan penggiliran pengaliran air secara bertahap.

Namun di awal tahun 2020, terjadi bencana jebolnya Tanggul Irigasi Suplesi Kamojing di Kelurahan Tegal Munjul Purwakarta yang dikelola PJT II, yang membuat jaringan pipa air PDAM Purwakarta ikut terputus.

Akibatnya pengaliran air ke wilayah Tegal Munjul, Munjul Jaya, Citalang, Cimaung, Dian Anyar dan daerah sekitarnya di Kecamatan Purwakarta mengalami gangguan.

Penanganan darurat yang dilakukan oleh PDAM yang pertama adalah mengamankan air yang terbuang dengan cara mengalihkan air dari mata air ke reservoir Cihuni untuk masuk ke wilayah pelayanan kota. Langkah yang kedua yaitu menutup pipa yang terputus supaya jalur ke daerah Citalang bisa berfungsi kembali.

Foto : Pekerjaan rekayasa jalur pengaliran air.

Selanjutnya dilakukan penyambungan pipa jalur Citalang dengan jalur Cimaung - Dian Anyar. Dari dua jalur yang ada yang aktif saat ini hanya satu jalur saja. Jalur ke Dian Anyar, Cimaung, dan sekitarnya sementara ikut dari pipa jalur Citalang.

Untuk mengembalikan pengaliran ke kondisi semula (membangun dua jembatan pipa yang runtuh), diperlukan waktu dan proses. Hingga saat ini dilakukan pematangan desain dan persiapan pelaksanaan pembangunan jembatan pipa.

Perbaikan Jembatan pipa disesuaikan pula dengan pekerjaan perbaikan gorong gorong dan tanggul irigasi yang dilakukan oleh pihak PJT II. Lokasi jembatan pipa yang akan dibangun perlu digeser dari posisi semula.

PDAM berupaya maksimal agar pelanggan tetap mendapatkan pasokan air. Selain upaya darurat tersebut, PDAM juga telah berupaya melakukan rekayasa pengaliran air.

"Selain itu kami juga menyediakan dan mendistribusikan air PDAM dalam tangki kepada para pelanggan secara kontinyu.
Sehingga dari fakta yang ada tersebut, bisa disimpulkan bahwa debit sumber air hingga saat ini belum kembali ke debit normal pasca-kemarau yang telah terjadi di waktu yang lalu," kata Dadang.

Ditambah pula terjadinya bencana jebolnya tanggul yang mengakibatkan putusnya jaringan pipa PDAM, menambah terhambatnya pengaliran pasokan air kepelanggan di daerah tersebut.

Sebagai informasi, saat ini PDAM Gapura Tirta Rahayu Kabupaten Purwakarta sedang membangun SPAM Baru Purwakarta yang bersumber dari Danau Ir. H. Djuanda Jatiluhur dengan debit sebesar 300 liter/detik.

"Pembangunan SPAM ini diupayakan dapat memenuhi kebutuhan akan pelayanan air bersih di kota purwakarta baik perbaikan kondisi pelayanan eksisting juga perluasan pelayanan," ucapnya.(dik)

Terpopuler

Kampanye Damai Pasangan Cabup dan Cawabup Purwakarta No urut 2 (Hj Anne Ratna Mustika dan H Aming)