Foto : Emak Encin, Janda Asal Karawang Ketiban Berkah Gerhana Bulan

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Bakal calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memanfaatkan peristiwa gerhana bulan pada Rabu (31/1) malam untuk bercengkrama dengan warga. Usai melaksanakan shalat gerhana, dia berkumpul bersama warga Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang.

Saat salah satu fase gerhana bulan berlangsung, Dedi meminta kepada teknisi panggung karavan seninya untuk mematikan lampu. Selama lampu dimatikan, Ia menjelaskan filosopi gerhana menurut orang Sunda.

Kata dia, dalam bahasa Sunda gerhana adalah samagaha. Istilah ini sebenarnya merujuk pada suasana hati yang tidak kunjung memiliki ketetapan.

"Bulan boleh mengalami gerhana, tetapi dalam hati seorang pemimpin tidak boleh terjadi gerhana. Samagaha itu perasaan galau dan sikap kegelisahan. Maka, pemimpin tidak boleh galau karena ingin mendapatkan kekuasaan," jelasnya.

Paparan dari santri Rais 'Aam NU Kiai Ma'ruf Amin itu disambut positif oleh ribuan warga yang hadir. Mereka memberikan tepuk tangan sebagai tanda kekaguman dan kesamaan pemahaman.

Karena itu, lanjut Dedi, Islam mensyari'atkan untuk melaksanakan shalat sunnah saat gerhana terjadi. Hal ini juga karena, gerhana merupakan fenomena alam langka yang menjadi tanda kekuasaan dan keagungan Allah SWT.

"Karena gerhana itu menghalangi datangnya cahaya, tirai penghalang itu harus disibakan. Dia (gerhana) tidak boleh menghalangi mata dari penglihatannya, telinga dari pendengarannya. Gerhana juga tidak boleh menghalangi hidung dari penciumannya, mulut dari ucapannya dan hati dari keikhlasannya," katanya.

Usai memaparkan makna gerhana, seperti biasa Dedi memanggil salah seorang warga untuk naik ke atas pentas. Kali ini, Emak Encin (78) terpilih untuk berduet dengan pelawak sunda Ohang dan bersama-sama menyanyikan satu tembang lawas.

Keriaan warga terlihat saat Ohang melemparkan candaan khasnya, Dedi Mulyadi dan Emak Encin juga turut tertawa riang.

Kepada Dedi, Emak Encin menceritakan bahwa dirinya berprofesi sebagai tukang pijit tradisional. Perempuan yang sudah menjanda selama 20 tahun ini pun mengaku harus berusaha keras mencari biaya hidup untuk dia dan cucunya.

"Emak mah mun mijat tara matok harga, nu penting jadi jalan ibadah keur Emak. (Emak tidak pernah mematok harga untuk jasa pijat, yang penting menjadi jalan ibadah buat Emak)," katanya.

Dalam sehari, Emak Encin biasa membawa pulang upah pijat sebesar Rp20 ribu - Rp50 ribu.

Berkah peristiwa gerhana bulan rupanya berpihak kepada Emak Encin. Kisah pilu hidupnya mengundang empati dari Dedi Mulyadi dan warga lain yang hadir.

Secara spontan, Dedi dan warga desa tersebut 'udunan' untuk meringankan beban hidup perempuan dengan dua anak yang tidak bekerja itu.

"Tidak semua orang bisa seperti Emak Encin, beliau sosok luar biasa, ikhlas menjalani hidup," kata Dedi lirih.

Dana sebesar Rp15 Juta berhasil terkumpul. Jumlah tersebut akan digunakan untuk biaya perbaikan rumah Emak Encin.

Kampanye Damai Pasangan Cabup dan Cawabup Purwakarta No urut 2 (Hj Anne Ratna Mustika dan H Aming)