Foto : Ganjar dalam sidang korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Jumat (9/2/2018).

JAKARTA, headlinejabar.com 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membeberkan terkait adanya praktik lobi sebagai lumrah di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Hal tersebut disampaikam saat ditanya oleh jaksa penuntut umum (JPU) saat menjadi saksi atas terdakwa Setya Novanto.

Ganjar mengatakan, lobi-lobi ini dilakukan ketika tidak menemukan kesepakatan atau mufakat dalam paripurna DPR.

Setiap fraksi, diberi ruang lobi untuk membahas setiap yang menjadi pembahasan di DPR.

"Lobi-lobi itu ada dan memang agenda setiap pembahasan," kata Ganjar dalam sidang korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Jumat (9/2/2018).

Mendengar pernyataan tersebut, jaksa pada KPK pun mendalami soal "lobi-lobi" yang dimaksud Ganjar. Jaksa bertanya soal apa dan siapa saja yang biasanya ikut lobi-lobi. Jaksa juga ingin mengetahui proses lobi-lobi di dewan.

"Jadi lobi-lobi itu apa alatnya atau siapa saja yang berhak ikut?" tanya jaksa kepada Ganjat.

"Bukan alat juga. Jadi di situ kita bicara dan bahas titik temu. Disediakan ruang untuk lobi-lobi. Biasanya ketua fraksi tapi anggota juga. Ya tujuannya biar ketemu mufakat," jawab Ganjar.

"Itu alat lobi termasuk bagi-bagi duit atau bagaimana atau apa saja yang dibahas?," tanya jaksa lagi.

Ganjar menekankan, arti "lobi-lobi" di sini bukan melulu ke arah negatif. Namun, dia tidak menampik jika masyarakat umum menafsirkan lobi-lobi juga soal bagi-bagi duit. Apalagi saat pembahasan untuk meloloskan anggaran di DPR.

"Jadi bukan ke situ (bagi-bagi duit). Saya malah kadang sampai di toilet bahas apa saja bersama rekan-rekan itu lobi-lobi," jelas Ganjar.

"Ada yang pakai duit istilahnya bagi-bagi lah?"kata JPU.

"Ya mungkin saja,"ungkap Ganjar di Persidangan.

REPORTER : YUSUF STEFANUS

EDITOR : DICKY ZULKIFLY

klik disini

IMG 20180718 WA0016

Terpopuler

Kampanye Damai Pasangan Cabup dan Cawabup Purwakarta No urut 2 (Hj Anne Ratna Mustika dan H Aming)